Kamis, 08 Mei 2008

Remaja Vs Sastra


Remaja merupakan fase awal pengenalan terhadap sastra. Minat terhadap sastra juga seharusnya sudah mulai ditumbuhkembangkan sejak masih remaja. Namun terkadang dirasa oleh para remaja sepantaran SMP/SMA sastra merupakan sesuatu yang sangat sulit dipahami. Karena yang mereka kenal sebagai sastra saat mereka belajar di sekolah hanyalah sebatas karya-karya seperti puisi-puisi lama yang kata-kata dan maknanya sulit untuk dimengerti dan dipahami. Atau mungkin guru yang terlalu membatasi ruang ekspresi muridnya dalam hal memaknai apa sebenarnya sastra.

Oleh karena itu mereka tidak menyadari bahwa cerpen-cerpen remaja yang mereka baca, puisi-puisi cinta yang mereka ciptakan dengan gaya bahasa mereka sendiri sesungguhnya merupakan bagian dari sastra, Mungkin karena alasan itulah minat remaja terhadap sastra belum cukup tinggi. Namun disisi lain perlu dibanggakan juga bahwa ternyata peminatan terhadap sastra mulai meningkat. Lambat namun pasti. Hal ini dapat dibuktikan dengan mulai banyak diterbitkannya novel-novel ataupun kumpulan cerpen remaja. Itu berarti bahwa minat untuk menciptakan dan membaca karya sastra dikalangan remaja mulai meningkat. Tinggal mereka dibekali lagi dengan kemampuan untuk menguasai bahasa Indonesia yang baik dan benar. Karena penguasann bahasa Indonesia berpengaruh penting dalam kualitas karya yang mereka ciptakan.

Hal tersebut juga senada seperti yang diungkapkan oleh Prof. Dr. Sapardi Djoko Damono, ”Karena, jika sejak usia SMP atau SMA minat menulis sudah terasah, tidak mustahil mereka akan menjadi sastrawan yang baik, atau penulis buku laris. Semakin terlatih menguasai bahasa Indonesia, anak semakin baik dalam menulis”. Untuk itu pentingnya peran sekolah sebagai tempat mereka belajar berbahasa Indonesia dan bersastra harusnya bisa lebih meningkatkan kualitas peminatan terhadap sastra yang tak terbatas.

Tidak ada komentar: